Dendi Supriadi – balada orang perantauan…

Dia adalah seorang teman semasa kuliah disini dulu, sejak tahun 1999 sampai tahun 2003 adalah masa2 kami, kenangan manis dan pahit kami lalui bersama. Setelah selesai kuliah, dia masih tinggal dibandung dan teman2 lain pulang ke kampung masing2.

Begitu pun setelah aku pulang ke bali, tidak pernah kudengar kabar dia lagi, sampai terakhir kudengar kabar dia membuka usaha video editing di bandung, dan waktu ke bandung 2 tahun lalu aku sempat mampir ke tempat usahanya.

Lama tak terdengar, tiba-tiba 3 bulan lalu ada sms dari nomer yang tidak ku kenal, dan ternyata itu nomer dia dan mengatakan bahwa dia ada di bali karena suatu tugas dari kantornya (ini kedua kalinya dia ke bali, dulu waktu bersama teman2 kuliah pertama kali dia ke bali). Aku pun menyempatkan berkunjung ke mess nya. Dia bercerita banyak tentang kehidupan dan pengalamannya selama ini, dan baru ku tahu dia telah menikah November lalu dan sekarang istrinya sedang mengandung 6 bulan.

Dari sisi kerja pun, lumayan berbobot, karena dia bertugas utk handle CCTV di seluruh bali dan satpas (Aplikasi SIM) di polres2 yang ada di bali. Pertama- tama tugas aku lihat dia bersemangat sekali , karena memang dia suka bidang ini, terutama jaringan..tapi entah mengapa lama kelamaan dia terlihat makin jenuh, bukan hanya kerjaan, tapi prosedur pelaporan ke kantor pusat yang bikin dia kesal..tiap habis pulang kerja, dilanjut buat laporan harian sampai laporan mingguan dan masalah yang di hadapi di lapangan.

Kalaupun tidak ada acara atau kerjaan, setiap pulang kerja atau sesekali waktu akhir pekan, aku berkali2 berkunjung kesana dan bahkan numpang tidur di messnya, yang lumayan luas tingkat 2, banyak kamar dan hanya dihuni oleh 3 orang teman kantornya. Sesekali aku ajak dia keluar jalan-jalan dan kalau ada acara keluarga di rumah pun aku ajak dia ikut serta. Hal ini aku lakukan supaya dia betah dan merasakan bahwa di sini dia tidak sendiri dan masih punya teman.

Setelah gundah memikirkan sana sini, akhirnya dia putuskan utk pulang kembali ke bandung, dengan berbagai alasan, baik dari sisi keluarga dan tuntutan kerjaan..aku tanya apa akan kembali ke bali ? dia hanya menjawab, mungkin tidak..dan kalaupun ke bali dia tidak mau bekerja dan hanya untuk liburan bersama istri dan anaknya kelak.

Entah mengapa, dia bukan teman pertama yang merantau ke bali, setahuku sudah lebih dari 5 temanku yang merantau dan semuanya orang jawa barat dan sekitarnya (bandung, tasik, garut, pangalengan, dll). Dari sini aku memang punya pikiran bahwa orang jawa barat itu memang tidak bisa lepas dari kampung halaman, beda dengan orang jawa yang lain dan mungkin juga orang sumatera (khususnya batak) yang ada dimana-mana J

Akhirnya, tadi pagi pun aku mengantarnya ke terminal ubung, mengucap selamat tinggal, salaman ala lelaki dan saling salam ke keluarga dan pasangan masing2.

Well, Wish you Luck Bro & Gud Luck in the future …;)

You may also like

9 Comments

  1. siapapun ga akan bisa lepas dari tanah kelahiran. dulu aku jarang bgt pulang ke jabar. jauh & ongkos lumayan. akhir2 ini hampir tiap lebaran diusahakan mudik ketemu sanak sodara di sana.
    kami emang ga bisa lepas dr kampung halaman, tp bukan berarti kami harus menyerah dan pulang ke kandang

    aku orang sunda, orangtuaku jg pure orang-orang sunda. sejak umurku 4 taun, kami udah ada di bali berjuang sampe skarang. kurang lebih udah 23 taun udah aku ada di bali. semoga bisa bertahan…

    siapapun ga akan bisa lepas dari tanah kelahiran. sekarang tinggal kemampuan bertahan dari orang itu sendiri. banyak faktor yg menentukan… 🙂

    kalo aku dan orang lain bersuku beda jadi Dendi, kami pun mngkin ga akan bertahan lama. Secara istri jauuuuuuuuh gitu lowh, mo ditancepin kemana si otong? hwuahahahahha…..crut!

  2. @Efi…sesaji paan bu ? 😉

    @Viar…yupz, bener juga bro..saya bernasib sama dengan ente, kebetulan ortu juga besar di sunda, cuman numpang makan dan hidup di bali sejak lama (tapi ente lebih lama dink 😀 ), dan bedanya lagi, sayah jarang bgt pulang ke bandung, sudah hampir 4 tahun ini ga pulang2..
    * berharap banget pulang lebaran taun ini.

    memang kemampuan orang bertahan dalam perantauan itu tergantung si individu itu sendiri, mungkin akan lebih nyaman berada di perantauan bersama keluarga dan orang yg kita cintai..

    Si otong mau dikemanain ?!? kan masih ada Si Iting, hihihihih…crot 😀
    * eh mun teu salah, urang ningali ente pas sabtu peuting di hardy’s sesetan..jeung saha yeuh 😀 …sori urang teu sempet nyapa, urang ka handap..ente ka luhur 😉

  3. lah kok ga manggil?!
    hehehe…jadi malu, itu sama si Iting… hwuauaahahhahah…
    lha ente teh sundanis oge? baru tau sayah

  4. yaaa begitulah nasib perantauan.
    gutlok dendi..

    ehh.. itu viar diajakin ngomong sunda kok nggak jawab pake sunda jugak.??
    jangan-jangan nggak bisa basa sunda.

  5. Ha…ha..ha, punk tuh anak belom lulus ospek dari dunia pengelana, sama waoo jiga babaturan nubahela, M.U.N.T.A.B.E.R kabeh euy

  6. @viar…sama lah perantauan di bali..sayah juga kagok bahasa sundanya 😉

    @yanuar…ente merantau juga kan om ?

    @artana…setuju banget!

    @John…bener doel, MUNTABER euy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *