Melali bersama Balebengong

Minggu lalu saya dan Efi berpartisipasi dalam acara melali (jalan-jalan) bersama balebengong dalam rangka reportase ke Danau Batur – Kintamani. Ada 6 mobil yang berangkat dan sesampainya di Kintamani, jalur yang di lalui bukan jalur seperti biasanya, kami menuju penelokan, jalur lebih extrim karena rusaknya jalan yang sering dilalui oleh truk truk pengangkut pasir. Keindahan kintamani tidak kami lewatkan begitu saja, beberapa kali mobil berhenti hanya untuk berfoto dan bernarsis ria, seperti ini:

Pemberhentian kami selanjutnya adalah Pura Hulundanu di Desa Songan, disana diadakan acara perkenalan semua anggota yang ikut dan ada sesi games dari Dancuk Anton, meskipun akhirnya hujan..perjalanan dilanjutkan menuju Desa Trunyan, tapi sebelumnya sebagian dari kami menuju rumah Putu Restiti, seorang anak yang dengan keterbatasannya, tapi mempunyai kelebihan menciptakan sesuatu (lebih lanjut mengenai Putu Restiti, silahkan lihat tulisan Mas Hendra WS ini).

Sempat makan siang bareng dengan ikan mujahir ala kintamani, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Trunyan, jalan yang dilalui begitu berliku dan hujan terus menemani kami. Sesampainya di desa, kami menyewa perahu menuju kuburan di desa trunyan dan terntunya dibantu oleh pemandu disana. Hanya 5-10 menit waktu yang diperlukan untuk sampai ke kuburan. Pak Wayan, begitu pemandu itu namanya, beliau mulai memandu kami masuk kuburan dan menjelaskan secara detail prosesi adat istiadat di kuburan itu (Mengenai profil Pak Wayan ini, silahkan lihat tulisan Eka Juniartawan dalam Balebengong).

Secara singkatnya, prosesi adat istiadat di kuburan desa trunyan ini adalah tempat untuk menaruh mayat hanya disediakan 11, jika ada orang dari desa tersebut meninggal, maka mayat yang paling lama akan digeser dan akan ditempati oleh mayat yang lebih baru. Satu hal lagi, kuburan ini hanya di peruntukkan bagi mereka yang meninggal secara normal, bisa dalam arti sakit, atau yang lainnya. Sedangkan selain itu disediakan tempat khusus di luar kuburan tersebut.

Kurang dari satu jam kami di sana, rencana semula memang ada beberapa tempat yang akan dikunjungi di kintamani tapi karena terhalang hujan, jadi kunjungan hanya ke Desa Trunyan saja.

Well…semoga kegiatan ini berlangsung secara simultan, jadi bale bengong bukan tempat hanya untuk bengong saja 😀

Terimakasih Balebengong 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *