7 Bulanan Zha

Alhamdulillah..kami diberi rejeki untuk melakukan Aqiqah sekaligus 7 bulanan Zha anak kedua kami, acara dilaksanakan di Nganjuk kampung mamake Zha, sama seperti acara 7 bulanan Aqira dulu. Perjalanan menuju Nganjuk kami tempuh via udara dan beberapa saudara lain melalui jalan darat, pertimbangan via udara pun saya ambil karena kalau nyetir sendiri saya tidak kuat, tadinya ada temen nyetir tapi last minute cancel karena beliau ada acara lain. Ini juga jadi penerbangan perdana kami berempat, yah itung2 travelling juga sih, kedua bocil cukup anteng selama perjalanan terutama saat perjalanan dari Surabaya – Nganjuk yang ditempuh selama kurang lebih 3 jam, kami dijemput saudara yang melalui jalan darat dari Bali.

Persiapan acara banyak dibantu saudara2 lain di Nganjuk dan kami sangat exciting akan hal ini, acara di mulai dengan mandiin Zha, kemudian penyambutan seperti layaknya tamu masuk rumah, menaiki tangga yang dibuat oleh pohon tebu, menginjak kue apem yang sudah disiapkan, dikurung oleh kurungan ayam dan terakhir memilih benda2  yang disajikan dalam nampan, Zha memilih benda dokter2an diantara benda lainnya, semoga kedepannya cita2nya bisa menjadi Dokter beneran 🙂 amiiin….

Ada satu acara akhir…yaitu membagi koin2 receh kepada para penduduk di sekitar desa yang menunggu diluar hingga acara selesai, hal ini pun kami lakukan sama seperti acara Aqira dulu dan sepertinya menjadi acara wajib jika ada hajatan yang sama di desa ini, acara ini memang selalu ditunggu oleh penduduk sekitar dan kami memang niatkan untuk membagi koin ini, saya membongkar celengan yang telah lumayan lama dikumpulkan dan ada pula pemberian koin dari kerabat di desa, lumayan seru melihat mereka rebutan koin dan ada beberapa doorprize yang dibagikan juga meskipun cuman sekedarnya, bagi yang dapat bisa menukarkan dengan hadiah yang telah kami siapkan, dan alhamdullilah acara berjalan lancar!

Selain acara 7 bulanan ini, ada satu acara lain yaitu pelantikan saudara sepupu yang telah menyelesaikan pendidikan bintara polisi di Mojokerto dan untuk acara jalan2nya kami menyempatkan untuk main ke Kediri Town Square, lumayan lah kalo nyetir dari Nganjuk ke kedua tujuan diatas :D. Semua urusan telah selesai pulangnya saya memutuskan untuk naik kereta ke Surabaya karena memang pengen ngajak kedua bocil berpetualang naek kereta, mayan jarak tempuh hanya 1,5 jam dari Nganjuk menuju Stasiun Surabaya Gubeng dibanding naik bus yang hampir 3 jam perjalanan. Sesampainya di Surabaya kami mengisi waktu untuk maen ke Tunjungan Plaza mall sebelum bertolak ke Bali sore harinya.  

Semoga bisa melanjutkan traveling ke tujuan lain bersama mereka tentunya 🙂 

Continue Reading

Pendakian ke Gunung Batur

Ini pendakian kedua saya ke Gunung Batur, pendakian pertama sekitar bulan April lalu yang mana pada saat itu cuaca di sekitar gunung batur agak berkabut dan hujan ketika sampai atas, well…pendakian kedua ini untungnya cuaca agak bersahabat dan bisa dibilang kami dapat moment yang tepat ketika sampai diatas 🙂

Pendakian kedua ini saya lakukan bersama teman2 di hotel yang juga ikut pendakian pertama dan ada beberapa teman hotel lain yang ikut pendakian juga. Kami berangkat terpisah pisah, ada yang berangkat lebih dahulu karena sudah menyewa penginapan disana, saya berangkat jam 11 malam bersama 1 mobil lain, dan perjalanan ditempuh kurang lebih 1.5 jam menuju kintamani. Jam 1 lebih kami sampai dan berlanjut beristirahat di Segara hotel (karena teman lain sudah menyewa beberapa kamar disini untuk beristirahat). Lumayan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu rombongan lain datang dan akhirnya kami berangkat jam 3 dinihari menuju meeting point dengan Pak Ketut (Guide langganan), sayangnya 1 mobil lain yang bergabung tidak bisa mengikuti alur mobil yang saya tumpangi dan akhirnya mentok di jalur pendakian Pura Jati, karena jarang ada sinyal disana maka komunikasi terputus dan akhirnya kami janjian untuk ketemu di puncak.

Jalur pendakian bersama Pak Ketut ini termasuk jalur pendakian terpendek, yaitu di Desa Serongga dan bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam untuk sampai di puncak. Kali ini Pak Ketut membawa keponakan perempuannya Wayan untuk menemani karena rombongan kami yang cukup banyak orang, total yang mendaki kali ini 16 orang. Mobil parkir pun disekitar rumah Pak Ketut dan jalur trekking tepat dibelakang ladangnya, jadi bisa dibilang jalur ini langsung menanjak karena berada tepat di bawah gunung. Cuaca cukup cerah pada saat kami mulai mendaki sekitar jam 4 pagi, jalur berpasir dan berdebu ditemui pertama kali sampai sekitar setengah perjalanan menuju puncak. Selebihnya ditengah ada jalur landai dan berpohon tapi kemudian menanjak lagi. Sebelum puncak tampak matahari sudah mulai terbit dan teman saya mengambil foto ini untuk saya, tjakep kan! (pemandangannya..bukan saya :D)

sebelum-puncak-batur

Piss!
piss-sebelum-puncak

Jarak ke puncak hanya beberapa langkah lagi, kami sampai di puncak sekitar pukul 6.30 dan matahari sudah mulai meninggi tapi tidak lama kemudian tertutup kabut. Menikmati kopi panas atau teh manis di warung sekitaran sana memang nikmat, apalagi ditambah kebul asap rokoknya, beughhh…syadaaappp! :D. Sebenarnya jalur ini bukanlah jalur paling puncak, ada satu titik point yang mesti dikunjungi lagi, tapi tidak apalah yang penting sudah di puncak dan berfoto2 ria. Team yang terpisah tadi pagi pun sudah sampai dan ternyata memang tidak bertemu, mereka ada di puncak lainnya.

Lumayan lama kami di puncak dan ketika kabut mulai turun kami pun beranjak turun, jalur trek turun kami sama persis dengan trek naik, tapi team sebelah mengambil jalur Toya bungkah, dimana bisa langsung menuju ke air panas di Toya Devasya. Ini beberapa moment di puncak dan turun kami.

Well…saya jadi ketagihan untuk trekking lagi dan kami pun berencana untuk trekking selanjutnya ke…..Gunung Catur! semoga kesampaian 🙂

Continue Reading

Berkunjung ke Bangkok

Terakhir saya ke Bangkok itu tahun lalu menghadiri conference forum yg diadakan diadakan oleh Sabre Hospitality, kali ini saya berkesempatan untuk berkunjung kembali ke kota ini dalam rangka workshop seharian full persis dengan vendor yang sama.

Saya berangkat via bandara Ngurah Rai Bali menujue Don Mueang Bangkok dan entah lah..selalu ada saja beberapa teman yang saya temui di bandara menuju tujuan yang sama, kali ini saya bertemu Dini (salah satu teman ecommerce) dia akan berlibur ke Bangkok bersama keluarga, dan Mas Anton (Kumendannya BBC) berangkat menuju Myanmar via Bangkok (iki liputan plus jalan2, wuenak tenannn, hahaa..). Pesawat langganan menuju Don Mueang adalah biasa, kapan saya bisa menuju Suvarnabumi haahhh :D. Sesampai di bandara, kami memesan langsung airport pickup PP, biaya kurang lebih sekitar 1000 baht, jarak dari bandara menuju Bangkok kurang lebih ditempuh sekitar 45 menitan, kalau mungkin tiba sore hari lebih baik ambil jalur high way, karena trafic lumayan parah dibanding tiba siang hari.

Saya menginap di Sukosol Hotel, sekaligus sebagai tempat workshop keesokan harinya, hotel lumayan bagus dan berarsitektur khas Thailand. Karena memanfaatkan waktu, saya dan teman langsung beranjak keluar hotel, tujuan pertama tentu saja kuliner (karena pas emang laper sik), Siam Paragon adalah tujuan kami, dengan berbekal google maps, penggunaan BTS train adalah opsi yang termurah, kurang lebih sekitar 30 baht per orang. Siam Paragorn berjarak tidak begitu jauh dari station pertama, hanya melewati satu station saja, yaitu Siam station. Siam merupakan station interchange yang mana bisa melanjutkan ke tujuan lainnya. Di daerah Siam, ada 2 mall besar; Siam Paragon (berisi tenant brand2 besar sama seperti Orchard Road nya Singapore lah) dan Siam Discovery. Wisata kuliner berada di lantai paling bawah, tempatnya bersih dan berbagai macam makanan tersedia disini. Antara Siam Paragon dan Siam Discovery terdapat lapangan yg cukup luas dan berbagai ornament berbentuk binatang (cocok untuk tempat foto2 niii), saya telisik lebih jauh ternyata ornament binatang ini terbuat dari besi atau logam yang disusun rapih membentuk karakter binatang tertentu.

Siam Paragon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan selanjutnya adalah Madame Tussaud, terletak di Siam Discovery lantai 5, tiket masuk kesini sudah dipesan sebelumnya oleh teman saya, jadi bisa dibilang tiket promo lah, kurang lebih harga ? baht. Koleksi Madame Tausaud ini lumayan banyak, mulai dari actor, actris, olahragawan, musisi sampai presiden dari berbagai negara tertentu, bahkan patung lilin Presiden Sukarno ada loh :), berikut beberapa foto yang saya sempat abadikan:

Kelar dari Madame Tausaud perut melapar lagi, kali ini kami mencoba ramen dan dilanjutkan berbelanja oleh2 makanan yg kebetulan tidak jauh dari tempat kami makan ramen. Sebelum pulang dilanjut dengan desert di afteryoudesert.com..hajar teross bleh! Pulang ke hotel via BTS train lagi sama seperti jalur pertama.

Keesokan harinya workshop dimulai, banyak materi yang berguna dalam workshop ini dan tentunya tidak ketinggalan networking dengan sesama peserta workshop. Selepas workshop kurang lebih jam 5.30 sore, saya memutuskan untuk pergi ke membeli Tamiya di Thaniya Plaza, tadinya mau pergi sendiri tapi teman2 mengikuti. Jarak menuju plaza tersebut tidak begitu jauh dari hotel kurang lebih sekitar 5km, cuman karena pada saat itu traffic lumayan parah dan ditempuh dalam waktu 1 jam. Thaniya Plaza tidak begitu besar seperti mall kebanyakan dan berada di district yang lumayan rame dan kental akan kehidupan malam di Bangkok. Saya hanya membeli 2 kit saja disini (ini pun bukan jenis mobil mini4wd yang biasa dipakai balapan, lebih ke mobil pajangan jenis Jimny dan Nissan offroad), beberapa sticker dan cutting mat tamiya, pengennya sih beli lebih banyak tetapi waktu yang terbatas dan teman lain hanya menunggu diluar toko jadi tidak enak kalau lama2 disini.

me-at-siam-tamiya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dilanjut pergi ke Platinum mall via BTS train dari Thaniya Plaza, saya mengunjungi tempat ini juga tahun lalu, lebih banyak menjual pakaian dewasa maupun anak2, tas dengan harga yang bersahabat, pusat oleh2 juga ada di lantai atas. Cuman sayangnya mall ini tutup jam 8 malam jadi saya tidak sempat berbelanja dan hanya melihat2 saja dan ditambah ada kejadian teman saya hilang karena asik berbelanja hahaha…bisa dibuat sinetron nih karena emang drama banget 😛 selepas tutup mall bukan berarti mall sepi, diluar mall justru banyak yang menggelar dagangan lain dan beberapa kuliner di food truck dan lagi2 harga bersahabat dan bisa ditawar. Saya sempat membeli gantungan kunci berbentuk boneka dengan customize nama di tengahnya, lumayan buat oleh2 khas Bangkok.

Beranjak dari Platinum mall menuju hotel kurang lebih pukul 10.30 malam, tadinya mau lanjut jalan sendirian tapi saya urungkan karena sudah capek dan belum packing untuk flight besok. Flight jam 12 siang sih tapi airport pickup sudah menjemput kami jam 8, menunggu di Don Mueang tidaklah membosankan, ada free wifi dan beberapa gerai duty free disana, saya sempat membeli sebotol wine, coffee mix sachet dan beberapa bungkus coklat untuk dibawa pulang, tidak lupa sarapan ala Thai dan selebihnya siap2 headset dan full charge battery untuk bekal 4 jam selama di pesawat.

Well..saya berharap bisa berkunjung ke bangkok di kemudian hari, tentunya bersama keluarga 🙂

Balik dulu John!

Balik dulu john!

 

Continue Reading

Outing..Rafting…and Jumping!

Yak..dalam sebulan terakhir ini, hari minggu saya lewatkan dengan kegiatan2 outdoor itu. Bodo amat ama yang namanya telepon yang berdering itu (tapi tetap saya angkat sih :D)

Outing saya menuju Desa Subaya, yang ada di perbatasan Bangli dan Singaraja bersama rombongan Bali Orange yang sebagian besar adalah anggota Bali Outbound. Sudah tentu jalan berliku kami lalui dan hujan menyambut kami setiba disana, Mas Ari Wangsa…seorang yang sudah tinggal tahunan disana dan merupakan kenalan banyak teman Bali Outbound adalah tempat yang dituju, sebuah gubug kecil nan asri, udara segar dan pemandangan yang indah terpampang di pintu masuk rumah beliau. Banyak catatan kecil yang saya temukan disini, Bukit Cinta-nya (entah siapa yang menamakannya demikian), berdiam di bawah langit cerah di tengah malam sampai dini hari, melihat perbatasan antara Bangli dan Singaraja di kaki gunung di pagi hari, sampai keramahan Mas Ari Wangsa si empunya rumah.

photo diambil dari koleksinya bali outbound

Satu lagi…saya salut akan ketangguhan para penduduk disana, para wanita dan anak2 rela mencari rumput sampai ke kaki gunung dengan kecuraman yang cukup tinggi, dan mereka menjalaninya tanpa ada rasa mengeluh, salute! nah…jangan ngeluh jaque! 😀

2 Minggu kemudian…masih di hari minggu, menuju Sobek Rafting di ubud, bersama @rarasupras, @gustul, @yanuar, @arie_Q, @efi_kojaque, @radendan…kebetulan dapet harga murah dari bunda arie 😀


Selanjutnya menuju warung pulau kelapa, lanjut ke Rumah Topeng & Wayang dan berakhir di Kertalangu.


Selang seminggu kemudian nyoba bungy jumping di bungy co daerah 66 legian, ini juga dapet tiket free dari @efi_kojaque 😉 tadinya sih sumpah! ga mau loncat tapi karena udah janji ama orang2 yang ngajakin loncat @saktisoe en @viar yawdah loncat lah 😛


Mau tau rasanya…ga ada rasa kok, cuman sebentar kok sport jantung aka dug dug ser-nya, pokoke tau2 udah dibawah aja dan ngeliatin tandemnya @saktisoe + @viar, hihihi…

Continue Reading

Melali bersama Balebengong

Minggu lalu saya dan Efi berpartisipasi dalam acara melali (jalan-jalan) bersama balebengong dalam rangka reportase ke Danau Batur – Kintamani. Ada 6 mobil yang berangkat dan sesampainya di Kintamani, jalur yang di lalui bukan jalur seperti biasanya, kami menuju penelokan, jalur lebih extrim karena rusaknya jalan yang sering dilalui oleh truk truk pengangkut pasir. Keindahan kintamani tidak kami lewatkan begitu saja, beberapa kali mobil berhenti hanya untuk berfoto dan bernarsis ria, seperti ini:

Pemberhentian kami selanjutnya adalah Pura Hulundanu di Desa Songan, disana diadakan acara perkenalan semua anggota yang ikut dan ada sesi games dari Dancuk Anton, meskipun akhirnya hujan..perjalanan dilanjutkan menuju Desa Trunyan, tapi sebelumnya sebagian dari kami menuju rumah Putu Restiti, seorang anak yang dengan keterbatasannya, tapi mempunyai kelebihan menciptakan sesuatu (lebih lanjut mengenai Putu Restiti, silahkan lihat tulisan Mas Hendra WS ini).

Sempat makan siang bareng dengan ikan mujahir ala kintamani, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Trunyan, jalan yang dilalui begitu berliku dan hujan terus menemani kami. Sesampainya di desa, kami menyewa perahu menuju kuburan di desa trunyan dan terntunya dibantu oleh pemandu disana. Hanya 5-10 menit waktu yang diperlukan untuk sampai ke kuburan. Pak Wayan, begitu pemandu itu namanya, beliau mulai memandu kami masuk kuburan dan menjelaskan secara detail prosesi adat istiadat di kuburan itu (Mengenai profil Pak Wayan ini, silahkan lihat tulisan Eka Juniartawan dalam Balebengong).

Secara singkatnya, prosesi adat istiadat di kuburan desa trunyan ini adalah tempat untuk menaruh mayat hanya disediakan 11, jika ada orang dari desa tersebut meninggal, maka mayat yang paling lama akan digeser dan akan ditempati oleh mayat yang lebih baru. Satu hal lagi, kuburan ini hanya di peruntukkan bagi mereka yang meninggal secara normal, bisa dalam arti sakit, atau yang lainnya. Sedangkan selain itu disediakan tempat khusus di luar kuburan tersebut.

Kurang dari satu jam kami di sana, rencana semula memang ada beberapa tempat yang akan dikunjungi di kintamani tapi karena terhalang hujan, jadi kunjungan hanya ke Desa Trunyan saja.

Well…semoga kegiatan ini berlangsung secara simultan, jadi bale bengong bukan tempat hanya untuk bengong saja 😀

Terimakasih Balebengong 🙂

Continue Reading

Kemana aja di Bandung ?

• Ke Makam Sirnaraga : Berdoa dan Nyekar dulu ke sesepuh yang telah mendahului kita

• Ke ITC Kebon Kalapa : Mo nyari pakaian, sepatu dengan harga miring disini tempatnya

Yogya Dept Store Kepatihan : Bisa jalan kaki dari ITC, disepanjang jalan dijual berbagai macam barang dan makanan tentunya, murah meriah lah..kami mencoba baso ceker dan batagornya

The Secret, The Summit, Heritage : Semua FO ini ada daerah Riau (Jl, LE Martadinata) silahkan berjalan utk pilih2 sepanjang jalan ini

Komplek Riung Bandung : Minjem motor euy..mau macet, gih sana gih!

Yoghurt Cisangkuy : Wow..yoghurt strawberry shakenya manteb dech

• Dago : Coba mampir ke Grande, Glamour, tapi recommend sih ke Blossom ama The Man (tempat fashionnya lelakih)

• Bebek Goreng di belakang rumah sakit St Borromeus, bebeknya manteb…cuman siap2 antri kalo mau beli, lebih baik datang pas sore hari.

Rumah Mode : FO nya luas dan lengkap, tapi jangan harap kesana tanpa kemacetan.

• Jl Cihampelas : memang pusatnya jeans, tapi jangan lupa mampir ke Ciwalk donk!

Padalarang : Sejenak mampir ke Bandung

Lembang : Beli colenak atau ketan dipinggir jalan raya lembang, hmmm…en maunya ke lembang kencana (mau beli susu murni) tapi ga sempet..satu lagi ciater ternyata di skip dari jadwal.

Gazeeboo : ada pasar kaget tiap minggu pagi, murah meriah dan bisa ditawar coy

Batagor Riri : Katanya sih Batagor terenak di Bandung, apalagi potoh2 selebritis itu terpampang di dindingnya.

Soreang : Yak…lagi ke Bandung

Cibaduyut : Cari sepatu buat oleh2

Ampera Kebon Kawung : Maunya sih ke warung Bu Imas, tapi apa daya penuh dan mengantri euy, ya sudahlah cari Ampera ajah

• Ke BIP : nongtong Eclipse duluw di mall ini 😉

masih banyak yang mesti dikunjungi, semoga lain waktu bisa mampir kesana lagi, dan tentunya siapin budget lagi 😛

note: silahkan di explore lebih lanjut kalau mau cari hotel dan akomodasi murah di bandung 😉

Continue Reading

Kamar itu…

Ingatan saya kembali ke 7 tahun yang lalu, ketika masih kuliah saya mendiami kamar kecil yang hanya berisi ranjang jadul dan lemari kecil disampingnya. Jam kamar itu masih seperti yang dulu, tiap diisi batere paling cuman bertahan sebentar, abis itu jarum jam berhenti lagi. Hanya meja saja yang berpindah tempat, dulunya meja itu dipake buat tempat komputer. Kamar itu memang sedikit lembab, tidak ada jendela hanya ventilasi se-uprit saja, dan kadang kadang diganggu suara curut yang numpang masuk ketika pintu kamar terbuka, tapi sekarang nggak lagi soalnya curutnya sudah gede 😀

Dan satu lagi bed cover dari bali dan selimut coklat pun masih ada di kamar itu, cuman satu yang berubah bantalnya menjadi keras, bukan karena berubah karena waktu, tapi bantal yang empuk di pindah ke kamar sebelahnya 😛

Dulu hanya sendiri menikmati kesendirian di kamar itu, kalo nggak nonton film ya denger mp3 lewat earphone ketika menjelang tidur, tapi sekarang tidak lagi…ada tambahan satu guling untuk dipeluk, sehingga menjadi hangat :D…dan saya bercerita kepadaNya mengenai kamar ini.

Well..selamat tidur 🙂

Continue Reading

rencana ke bandung ituh…

Sudah sejak 6 bulan lalu kepikiran, dan akhir maret booking tiket supaya dapet harga murah (begitulah ceritanya) sekalian sih merayakan Happy Anniversary kita atau bulan madu yang tertunda gitu dech…

Rencana dan jadwal kami siapkan per harinya, kunjungan ke sanak saudara yang rupanya tidak saling berdekatan jaraknya. Dari ciroyom, riung bandung, soreang, sampai lembang, belum lagi silaturahmi ke teman masa kuliah dulu (kalau sempat dan…di sempat2 kan lah) dan tentunya tidak lupa oleh2 dari bali untuk mereka (tidak semua sih..beberapa sajalah)

Denger berita dari beberapa saudara yang baru balik beberapa bulan lalu dari bandung, kemacetan di bandung makin parah, mall makin menjamur di sana sini..wah, tapi gadis cantiknya ga berkurang kan 😛 Yah..akhirnya memutuskan kalo kesana sini di bandung naek motor aja dah, biar ga ribet! lupakan mobil atau kalo mau cuci mata naeklah angkot sapa tau beruntung dapet seangkot ama mojang bandung nu gareulis 😀

Satu lagi…bawa oleh2 ke bandung, tentu ada timbal balik bawa oleh2 dari bandung tentunya..untuk hal ini mesti bawa satu spare tas kosong lagi dech, dan semoga kami tidak gila belanja (cukup kuliner sajah) karena kami tight on budget! hahahaha….

happy holiday… 🙂

Continue Reading

Turis Lokal Seharian

Ya…hari itu merupakan hari ulang tahunnya, dari jauh hari kita memang merencanakan untuk jalan jalan ke tempat itu. Ubud adalah tujuan kita, dan memang sudah lama tidak berkunjung ke ubud pasca foto pasca wedding itu terakhir ama Sakti Soe dan Asn.

Jalan menuju Ubud cukup jauh dari tempat tinggal kita, bermotor ria memakan waktu kurang lebih 40 menit, tidak ngebut…santai saja 😉 Karena hari sudah siang dan memang tujuan pertama kita adalah cari makan di ubud. Naughty Nuri’s adalah tujuannya. Warung sederhana namun cukup ternama di kawasan ini, bahkan pernah masuk New York Times oleh karena salah satu kontributornya pernah makan disana. Letaknya di pinggir jalan, Jl Sanggingan di seberang museum neka. Hari itu cukup sepi karena memang belum jam makan siang, saya lihat pun hanya ada 1 rombongan bersama kita waktu itu. Cuaca cukup panas siang itu sehingga kita memutuskan untuk duduk di tempat duduk paling luar. Dia memesan Spare Ribs-nya yang konon menjadi makanan favorit disini, sedang saya cukup dengan Beef Burger saja. Buat make sure saja Spare Ribs itu mengandung Babi 100% dan Beef Burger nya pun ada helaian Ham but tidak 100%. Tapi ya..enak2 saja tuh 😀

Sehabis makan kita rencana untuk mengunjungi museum antonio blanco, tapi entah mengapa begitu lewat tempat itu kok ga jadi, jadi ya sudah teruskan saja. Tujuan selanjutnya adalah Pasar Ubud. Sebelumnya memang kita tidak pernah ke pasar ini, jadi ini merupakan kunjungan pertama. Sebuah daster dan tas jadi di belinya dan lagi2 dengan tawar menawar ala wanita, jadi maksudnya gini..minta dengan harga serendah mungkin lalu berlalu begitu saja menuju toko selanjutnya. Akhirnya si penjual pun memanggilnya kembali dengan harga yang ditawarnya tadi 😀 Pinter kamu dear…

Setelah puas keliling pasar, kita memutuskan untuk berjalan kaki mencari ATM terdekat dan mengunjungi Jalan Kajeng, Tempat Walk of Fame-nya Ubud dan juga tempat memorabilia Si Sakti Soe kunjungi waktu itu, yang quotenya “Cinta..kamu ga papa kan?” tapi sayang tidak semua tulisannya terlihat karena pas kebetulan ada mobil parkir dibawah tulisannya.

Hari memang terasa panas, sekitar jam 3 kita memutuskan untuk balik ke denpasar, tak lupa mampir ke toko kamera untuk perbaiki kamera saya yang rusak. Tangan dan kaki jadi belang sewaktu tiba dirumah, Ya iya lah wong jadi Turis Lokal seharian 😀

Continue Reading